Organisasi
pada dasarnya seperti mahluk hidup yang kelangsungan hidupnya sangat ditentukan
oleh kemampuannya untuk beradapatasi dengan lingkungan. Perubahan lingkungan
strategik organisasi yang sangat cepat dalam berbagai dimensi, seperti
teknologi, sosial, ekonomi, perundangan, globalisasi, dll. menuntut organisasi
untuk mampu beradaptasi pada perubahan itu. Apabila organisasi terlambat untuk
berubah maka sangat besar kemungkinan organisasi akan mundur kinerjanya bahkan,
dapat punah. Oleh karena itu suatu hal yang harus dilakukan oleh organisasi
untuk tetap bertahan dan berkembang adalah organisasi senantiasa mempelajari
perubahan lingkungan strategik dan segera beradaptasi pada perubahan itu. Dalam
dinamika organisasi tersebut muncul istilah Organisasi Pembelajaran/Belajar dan
Pembelajaran Organisasi.
Tiga
Pembedaan makna belajar organisasi dan organisasi belajar yang sering muncul
saat ini yang diungkap oleh para ahli adalah sebagai berikut:
a.
Organisasi Belajar merupakan suatu format organisasi, sedangkan Belajar
Organisasi adalah proses atau aktivitas pembelajaran yang dilakukan dalam
organisasi
b.
Organisasi pembelajaran butuh
usaha/upaya untuk mewujudkannya sedangkan pembelajaran organisasi dapat
terwujud sekalipun tanpa usaha/upaya.
c.
Organisasi Pembelajaran merupakan
kebutuhan sedangkan pembelajaran organisasi sebagai bentuk tertentu dari suatu
organisasi.
Christiane Prange
menyatakan pertanyaan-pertanyaan berikut yang jauh yang paling masuk
akal yang bisa dipahami dalam teori pembelajaran organisasi:
• Apa artinya pembelajaran organisasi? (Definisi)
• Siapa yang belajar? (Belajar subjek)
• Apa yang sedang dipelajari? (Isi pembelajaran)
• Kapan pembelajaran berlangsung? (Insentif dan motif untuk belajar)
• Apa hasil yang hasil belajar? (Efisiensi dan efektivitas pembelajaran)
• Bagaimana pembelajaran berlangsung? (Proses pembelajaran)
• Apa artinya pembelajaran organisasi? (Definisi)
• Siapa yang belajar? (Belajar subjek)
• Apa yang sedang dipelajari? (Isi pembelajaran)
• Kapan pembelajaran berlangsung? (Insentif dan motif untuk belajar)
• Apa hasil yang hasil belajar? (Efisiensi dan efektivitas pembelajaran)
• Bagaimana pembelajaran berlangsung? (Proses pembelajaran)
Perbedaan
Pembelajaran Organisasi dan Organisasi Pembelajaran adalah sebagai berikut :
Dimensi
|
Pembelajaran
Organisasi
|
Organisasi
Pembelajaran
|
Karakter Isi
|
Proses
|
Bentuk Organisasi
|
Jumlah Normativitas
|
Bersifat Deskriptif
|
Bersifat Normatif
|
Secara Alami
|
Butuh adanya Aktivitas
|
|
Netral
|
Memungkinkan berpihak
|
|
Perlu
|
Tidak Perlu
|
|
Dapat diperoleh
|
Tidak dapat dicapai
|
|
Diketahui
|
Tidak Diketahui
|
|
Kelompok Target
|
Akademisi
|
Praktisi; konsultan
|
Istilah organisasi pembelajaran sebagian
berasal dari gerakan
"In Search of Excellence" dan selanjutnya digunakan
oleh Garrat (Dale, 2003). Namun Geoffrey Holland (Dale, 2003) menyatakan bahwa
"jika kita mau bertahan hidup secara individual atau sebagai perusahaan,
ataupun sebagai bangsa kita harus menciptakan tradisi perusahaan pembelajaran."
Statemen-nya ini mengacu pada usaha mencari contoh-contoh praktek terbaik
sehingga organisasi pembelajaran bisa dijiplak dan diperbanyak.
Kondisi ini justru menyebabkan
perusahaan-perusahaan berusaha mencari contoh dari perusahaan yang berhasil.
Dengan kata lain mereka berusaha mencari organisasi yang paling sempurna untuk
dicontoh tanpa menyadari bahwa tidak ada bentuk organsiasi yang seperti itu.
Dengan
suatu proses kajian literatur, wawancara dan investigasi lain maka Pedler,
Boydell dan Burgoyne (1988) mendefinisikan organisasi pembelajaran sebagai
berikut: "Sebuah organisasi yang memfasilitasi pembelajaran dari seluruh
anggotanya dan secara terus menerus mentransformasi diri." Pedler, dkk
(1988) menekankan sifat dua sisi dari defenisi tersebut. Suatu perusahaan
pembelajar bukan organisasi yang semata-mata mengikuti banyak pelatihan. Perlunya
pengembangan ketrampilan individu tertanam dalam konsep, setara dan merupakan
bagian dari kebutuhan akan pembelajaran organisasi.
Menurut Pedler, dkk (Dale, 2003) suatu
organisasi pembelajaran adalah organisasi
yang:
1)
Mempunyai suasana dimana anggota-anggotanya
secara individu terdorong untuk belajar dan mengembangkan potensi penuh mereka;
2)
Memperluas budaya belajar ini sampai
pada pelanggan, pemasok dan
stakeholder lain yang signifikan;
3)
Menjadikan strategi pengembangan sumber
daya manusia sebagai pusat kebijakan bisnis;
4)
Berada dalam proses transformasi
organisasi secara terus menerus;
Tujuan proses transformasi ini, sebagai
aktivitas sentral, adalah agar perusahaan mampu mencari secara luas ide-ide
baru, masalah-masalah baru dan peluang-peluang baru untuk pembelajaran, dan
mampu memanfaatkan keunggulan kompetitif dalam dunia yang semakin kompetitif.
Peter Sange (1990) mengatakan sebuah
organisasi pembelajaran adalah organisasi "yang terus menerus memperbesar
kemampuannya untuk menciptakan masa depannya" dan berpendapat mereka
dibedakan oleh lima disiplin, yaitu: penguasaan pribadi, model mental, visi
bersama, pembelajaran tim, dan pemikiran sistem.
Lundberg (Dale, 2003) menyatakan bahwa
pembelajaran adalah suatu kegiatan bertujuan yang diarahkan pada pemerolehan
dan pengembangan ketrampilan dan pengetahuan serta aplikasinya. Menurutnya
pembelajaran organisasi adalah:
1)
Tidaklah semata-mata jumlah pembelajaran
masing-masing anggota;
2)
Pembelajaran itu membangun pemahaman
yang luas terhadap keadaan internal maupun eksternal melalui kegiatan-kegiatan
dan sistem-sistem yang tidak tergantung pada anggota-anggota tertentu;
3)
Pembelajaran tidak hanya tentang
penataan kembali atau perancangan kembali unsur-unsur organisasi;
4)
Pembelajaran lebih merupakan suatu
bentuk meta-pembelajaran yang mensyaratkan pemikiran kembali pola-pola yang
menyambung dan mempertautkan potongan- potongan sebuah organisasi dan juga
mempertautkan pola-pola dengan lingkungan yang relevan;
5)
Pembelajaran organisasi adalah suatu
proses yang seolah-oleh mengikat beberapa sub-proses, misalnya perhatian,
penafsiran, pencarian, pengungkapan dan penemuan, pilihan, pengaruh dan
penilaian.
6)
Pembelajaran organisasi mencakup baik
unsur kognitif, misalnya pengetahuan dan wawasan yang dimiliki bersama oleh
para anggota organisasi maupun kegiatan organisasi yang berulang-ulang,
misalnya rutinitas dan perbaikan tindakan. Ada proses yang sah dan tanpa henti
untuk memunculkan ke permukaan dan menguji praktek-praktek organisasi serta
penjelasan yang menyertainya. Dengan demikian organisasi pembelajar ditandai
dengan pengertian kognitif dan perilaku.
B. Belajar Organisasi
Schwandt (1993) mendefinisikan
pembelajaran organisasi sebagai sebuah sistem dari aksi, aktor, simbol dan
proses yang memungkinkan organisasi mentransform informasi menjadi pengetahuan
yang bernilai yang dapat digunakan oleh organisasi dalam meningkatkan kapasitas
adaptasi jangka panjangnya.
Tokoh lain yang memberikan definisi
mengenai organisasi pembelajaran adalah John Farago & David Skyrme
(Munandar, 2003). Dalam salah satu tulisan mereka mengatakan bahwa:
"Learning Organizations are those
that have in place systems, mechanism and processes, that are used to
continually enhance their capabilities to achieve sustainable objectives for
themselves and the communities in which they participate."
Dari uraian di atas dapat dicatat
butir-butir berikut ini, yaitu bahwa organisasi pembelajaran adalah:
1)
Adaptif terhadap lingkungan
eksternalnya;
2)
Secara terus menerus menunjang kemampuan
untuk berubah;
3)
Mengembangkan baik pembelajaran
individual maupun kolektif;
4)
Menggunakan hasil pembelajaran untuk
mencapai hasil yang lebih baik;
Dari
uraian-uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa organisasi pembelajaran
adalah organisasi yang secara terus menerus dan terencana memfasilitasi
anggotanya agar mampu terus menerus berkembang dan mentransformasi diri baik
secara kolektif maupun individual dalam usaha mencapai hasil yang lebih baik
dan sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan bersama antara organisasi dan
individu di dalamnya.
Megginson dan Pedler (Dale, 2003)
memberikan sebuah panduan mengenai konsep organisasi pembelajaran, yaitu:
"Suatu ide atau metaphor yang dapat
bertindak sebagai bintang penunjuk. Ia bisa membantu orang berpikir dan bertindak
bersama menurut apa maksud gagasan semacam ini bagi mereka sekarang dan di masa
yang akan datang. Seperti halnya semua visi, ia bisa membantu menciptakan
kondisi dimana sebagian ciri-ciri organisasi pembelajar dapat dihasilkan".
Kondisi-kondisi tersebut adalah: 1) Strategi pembelajaran;
2)
Pembuatan kebijakan partisipatif;
3)
Pemberian informasi (yaitu teknologi
informasi digunakan untuk menginformasikan dan memberdayakan orang untuk
mengajukan pertanyaan dan mengambil keputusan berdasarkan data-data yang
tersedia);
4)
Akunting formatif (yaitu sistem
pengendalian disusun untuk membantu belajar dari keputusan);
5)
Pertukaran internal;
6)
Kelenturan penghargaan;
7)
Struktur-struktur yang memberikan
kemampuan;
8)
Pekerja lini depan sebagai penyaring
lingkungan;
9)
Pembelajaran antarperusahaan;
10)
Suasana belajar;
11)
Pengembangan diri bagi semua orang.
Meskipun melakukan semua hal di atas,
tidak otomatis suatu organisasi menjadi organisasi pembelajar. Perlu dipastikan
bahwa tindakan-tindakan tidak dilakukan hanya berdasarkan kebutuhan.
Tindakan-tindakan tersebut harus ditanamkan, sehingga menjadi cara kerja
sehari-hari yang rutin dan normal. Strategi pembelajaran bukan sekedar strategi
pengembangan sumber daya manusia. Dalam organisasi pembelajar, pembelajaran
menjadi inti dari semua bagian operasi, cara berperilaku dan sistem. Mampu
melakukan transformasi dan berubah secara radikal adalah sama dengan perbaikan
yang berkelanjutan.
Schein (Munandar, 2003) mengemukakan
karakteristik organisasi pembelajar sebagai berikut:
1)
Dalam hubungan dengan lingkungan maka
organisasi bersifat lebih dominan dalam menjalin hubungan;
2)
Manusia hendaknya berperilaku proaktif;
3)
Manusia pada dasarnya adalah makhluk
yang baik;
4)
Manusia pada dasarnya dapat diubah;
5)
Dalam hubungan antar manusia,
individualisme dan kolektivisme sama-sama penting;
6)
Dalam hubungan atasan-bawahan
kesejawatan atau partisipatif dan otoritatif atau paternalistik sama-sama
pentingnya;
7)
Orientasi waktu lebih berorientasi pada
masa depan yang pendek;
8)
Untuk penghitungan waktu lebih digunakan
satuan waktu yang medium;
9)
Jaringan informasi dan komunikasi
berkesinambungan secara lengkap;
10)
Orientasi hubungan dan orientasi tugas
sama-sama pentingnya.
11)
Perlunya berpikir secara sistematis.
Farago dan Skyrme (Munandar, 2003)
mengatakan bahwa organisasi pembelajaran memiliki karakteristik sebagai
berikut:
1)
Berorientasi pada masa depan dan hal-hal
yang sifatnya eksternal atau di luar dari diri organisasi;
2)
Arus dan pertukaran informasi yang jelas
dan bebas;
3)
Adanya komitmen untuk belajar dan usaha
individu untuk mengembangkan diri;
4)
Memberdayakan dan meningkatkan
individu-individu di dalam organisasi;
5)
Mengembangkan iklim keterbukaan dan rasa
saling percaya;
6)
Belajar dari pengalaman;
Dari
uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari organisasi
pembelajaran adalah keyakinan bahwa individu adalah proaktif untuk meningkatkan
keinginan diri, berusaha maju dan terus belajar dengan menciptakan iklim
organisasi yang terbuka dan arus informasi yang jelas. Kondisi ini nantinya
akan menghasilkan proses yang terus berkesinambungan dengan tetap mengacu pada
kondisi internal organisasi yang pada akhirnya mengacu pada kondisi dan
tuntutan eksternal di luar organisasi.
Beberapa dimensi perlu ada untuk
menjadikan organisasi dapat terus bertahan. Organisasi seperti ini dinamakan
organisasi pembelajar, karena dimensi-dimensi ini akan memungkinkan organisasi
untuk belajar, berkembang, dan berinovasi. Dimensi-dimensi tersebut adalah
1)
Model mental
2)
System thinking
3)
Shared Vision
4)
Personal Mastery dan
5)
Team Learning.
Kelima dimensi organisasi pembelajar ini
harus hadir bersama-sama dalam sebuah organisasi untuk mempercepat proses
pembelajaran organisasi dan meningkatkan kemampuannya untuk beradaptasi pada
perubahan dan mengantisipasi perubahan di masa depan.
Respon manusia terhadap situasi yang
terjadi di lingkungannya sangat dipengaruhi oleh asumsi dan kebiasaan yang
selama ini berlaku. Di dalam organisasi, berlaku pula kesimpulan yang diambil
mengenai 'how things work' di dalam organisasi. Hal ini disebut dengan mental
model, yang dapat terjadi tidak hanya pada level individual tetapi juga
kelompok dan organisasi.
Mental model memungkinkan manusia
bekerja dengan lebih cepat. Namun, dalam organisasi yang terus berubah, mental
model ini kadang-kadang tidak berfungsi dengan baik dan menghambat adaptasi
yang dibutuhkan. Dalam organisasi pembelajar, mental model ini didiskusikan,
dicermati, dan direvisi pada level individual, kelompok, dan organisasi.
Organisasi pada dasarnya terdiri atas
unit yang harus bekerjasama untuk menghasilkan kinerja yang optimal. Unit-unit
antara lain ada yang disebut divisi, direktorat, bagian, atau cabang.
Kesuksesan suatu organisasi sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi untuk
melakukan pekerjaan secara sinergik. Kemampuan untuk membangun hubungan yang
sinergik ini hanya akan dimiliki kalau semua anggota unit saling memahami
pekerjaan unit lain, dan memahami juga dampak dari kinerja unit tempat dia
bekerja pada unit lainnya.
Seringkali dalam organisasi orang hanya
memahami apa yang dia kerjakan dan tidak memahami dampak dari pekerjaan dia
pada unit lainnya. Selain itu seringkali timbul fanatisme seakan-akan hanya
unit dia sendiri yang penting perannya dalam organisasi dan unit lainnya tidak
berperan sama sekali. Fenomena ini disebut dengan ego-sektoral. Kerugian akan
sangat sering terjadi akibat ketidakmampuan untuk bersinergi satu dengan
lainnya. Pemborosan biaya, tenaga dan waktu. Terlepas dari adanya perasaan
bahwa unit diri sendiri adalah unit yang paling penting, tidak adanya pemikiran
sistemik ini akan membuat anggota perusahaan tidak memahami konteks keseluruhan
dari organisasi.
Kini semakin banyak organisasi yang
mengandalkan pada struktur tanpa batas (borderless organization),
atau kalaupun masih menggunakan struktur organisasi berbasis fungsi, kini
fungsi-fungsi yang terkait dengan proses yang sama dibuat saling melintas batas
fungsi. Organisasi yang demikian disebut organisasi lintas fungsi atau
cross-functional organization. Organisasi yang demikian ini akan membuat proses
pembelajaran lebih cepat karena masing-masing orang dari fungsi yang berbeda
akan berbagi pengetahuan dan pengalamannya.
Oleh karena organisasi terdiri atas
berbagai orang yang berbeda latar belakang pendidikan, kesukuan, pengalaman
serta budayanya, maka akan sangat sulit bagi organsasi untuk bekerja secara
terpadu kalau tidak memiliki visi yang sama. Selain perbedaan latar belakang
karyawan, organisasi juga memiliki berbagai unit yang pekerjaannya berbeda
antara satu unit dengan unit lainnya. Untuk menggerakkan organisasi pada tujuan
yang sama dengan aktivitas yang terfokus pada pencapaian tujuan bersama
diperlukan adanya visi yang dimiliki oleh semua orang dan semua unit yang ada
dalam organisasi.
Organisasi pembelajar memerlukan
karyawan yang memiliki kompetensi yang tinggi agar bisa beradaptasi dengan
tuntutan perubahan, khususnya perubahan teknologi dan perubahan paradigma
bisnis dari paradigma yang berbasis kekuatan fisik (tenaga otot ) ke paradigma
yang berbasis pengetahuan (tenaga otak). Selain itu kecepatan perubahan tipe
pekerjaan, telah menyebabkan banyak pekerjaan yang tidak diperlukan lagi oleh
organisasi karena digantikan oleh tipe pekerjaan baru, atau digantikan oleh pekerjaan
yang menuntut penggunaan teknologi. Bilamana pekerja tidak mau belajar hal
baru, maka dia akan kehilangan pekerjaan. Selain itu banyak pekerjaan yang
ditambahkan pada satu pekerjaan
(job-enlargement), atau job rotation (mutasi
karyawan) agar memudahkan karyawan untuk memahami kegiatan di unit kerja yang
lain demi terwujudnya sinergi. Oleh karena itu karyawan harus belajar hal-hal
baru.
Untuk memenuhi persyaratan perubahan
dunia kerja ini semua pekerja di sebuah organisasi harus memiliki kemauan dan
kebiasaan untuk meningkatkan kompetensi dirinya dengan terus belajar.
Kompetensi dirinya bukan semata-mata di bidang pengetahuan, tetapi kemampuan
berinteraksi dengan orang lain, menyelesaikan konflik, dan saling mengapresiasi
pekerjaan orang lain. Organisasi lintas fungsi seperti yang telah dibicarakan
di atas akan mempercepat proses pembelajaran individu di dalam organisasi. 5. Team
Learning.
Kini
makin banyak organisasi berbasis team, karena rancangan organisasi dibuat dalam
lintas fungsi yang biasanya berbasis team. Kemampuan organisasi untuk
mensinergikan kegiatan team ini ditentukan oleh adanya visi bersama dan
kemampuan berfikir sistemik seperi yang telah dibicarakan di atas. Namun
demikian tanpa adanya kebiasaan berbagi wawasan sukses dan gagal yang terjadi
dalam suatu team, maka pembelajaran organisasi akan sangat lambat, dan bahkan
berhenti. Pembelajaran dalam organisasi akan semakin cepat kalau orang mau
berbagi wawasan dan belajar bersama-sama. Oleh karena itu semangat belajar
dalam team, cerita sukses atau gagal suatu team harus disampaikan pada team
yang lainnya. Berbagi wawasan pengetahuan dalam tim menjadi sangat penting
untuk peningkatan kapasitas organisasi dalam menambah modal intelektualnya.
Nurhadijah (tpers.net) dalam sebuah
tulisan di websitenya menyatakan bahwa Istilah Organizational Learning
menekankan bahwa setiap individu karyawan yang belajar, yang difasilitasi dalam
suatu lingkup oarganiasi yang sama, dan menggunakan pengetahuan yang didapat
untuk tujuan organisasi. Sedangkan Learning Organization penekanannya lebih
kepada struktur atau situasi, dimana setiap orang tidak bisa tidak harus mau
belajar karena kebiasaan belajar sudah terpatri di organisasi tersebut.
Michael J Marquard (1996) berpendapat
bahwa Learning organization fokus kepada : Apa, penggambaran sebuah sistem,
dasar pokok, dan karakteristik dalam Organisasi. Sedangkan Organization
learning fokus pada : bagaimana organisasi belajar terjadi yang meliputi
kemampuan, proses serta membangun dan memanfaatkan knowledge.
Lisa Montagu (2008) mengutip pendapat
Senge tentang Learning Organization dan Organization Learning, yang intinya
menyatakan definisi kedua istilah tersebut tidak jauh berbeda dengan yang telah
diuraikan di atas. Learning Organization (Organisasi Pembelajar) merupakan
tempat dimana orang secara terus menerus meningkatkan kapasitasnya agar
tercipta hasil yang diinginkan dan merupakan tempat dimana pola pikir baru dan
pola pikir yang diperluas terus dipertahankan, serta menjadi tempat dimana
aspirasi kolektif bebas dimiliki dan di sana orang-orang secara terus menerus
belajar untuk melihat realitas secara keseluruhan. Lebih lanjut, Senge
mengungkapkan bahwa secara umum Organisasi Pembelajar menjadi tempat dimana orang-orang
pada semua level/tingkat, baik secara individu maupun bersama, melakukan
peningkatan kapasitas mereka untuk menghasilkan manfaat yang akan menjadi
perhatian mereka atau sesuai keinginan mereka. Lisa mengungkapkan seperti
halnya Organisasi Pembelajar, Pembelajaran Organisasi pun telah dikenal dalam
waktu yang panjang dan dipopulerkan pada tahun 1990-an. Ranah dari Pembelajaran
Organisasi adalah tentang bagaimana organisasi melakukan proses belajar dan
seringkali mengarah pada berbagai model atau teori. Pembelajaran Organisasi
dapat dilihat pula sebagai pengujian atas proses dan konsep yang digunakan oleh
Organisasi Pembelajar. Dua topik yang berbeda namun saling terkait. Singkatnya,
Organisasi Pembelajar merupakan tempat, dan Pembelajaran Organisasi merupakan
proses.
Sejalan dengan konsep di atas, dalam
tulisan lain, Raanan Lipshitz dkk (2000) dari Universitas Haifa menegaskan
bahwa Pembelajaran Organisasi merupakan proses interpersonal yang kompleks yang
terjadi melalui mekanisme struktural dalam arena sosial. Pembelajaran
melalui/dengan Organisasi terjadi ketika individu melakukan proses pembelajaran
melalui mekanisme pembelajaran organisasi yang memastikan bahwa yang
bersangkutan memperoleh informasi yang dibutuhkan. Proses Pembelajaran secara individual
akan menghasilkan pandangan-pandangan dan perubahan terkait kebiasaan,
keterampilan, dan tindakan. Pembelajaran Organisasi akan menghasilkan
perubahan- perubahan dalam norma-norma, doktrin, prosedur operasi standar,
struktur dan budaya. Konsekuensinya, pembelajaran organisasi tidak dapat
dipahami secara baik tanpa menggunakan lensa sosial, politik dan kultural.
Mempraktekkan Organisasi Pembelajar di
Indonesia memiliki banyak tantangan sehingga terasa berat bagi para manager dan
pengelola perusahaan/organisasi untuk membawa organisasinya menjadi Organisasi
Pembelajar. Laksana TH, Managing Partner pada Strategic Solution Center
menyatakan bahwa untuk membentuk Organisasi Pembelajar tidak hanya membutuhkan
keinginan kuat tetapi juga membutuhkan Kerelaan dari pemegang saham untuk
menginvestasikan retained profitnya dalam bentuk pengembangan sistem
organisasi, pertumbuhan 'people' dan membuat organisasi bisnisnya tidak semata
menjadi 'economic animal' dan 'profit making machine'.
Carol Garolick (2005) dalam tulisannya Organizational
learning vs the learning organization: a conversation with a practitioner,
telah sepaham dan menggunakan definisi Organisasi Pembelajar yang diungkapkan
Senge yang menyatakan bahwa Organisasi Pembelajar adalah tempat dimana orang-orang
pada semua level/tingkat, baik secara individu maupun bersama, melakukan
peningkatan kapasitas mereka untuk menghasilkan manfaat yang akan menjadi
perhatian mereka atau sesuai keinginan mereka. Sebelum mengadopsi pendapat
Senge, Carol melakukan berdiskusi tentang hal ini dan dia menentang pendapat
tersebut. Namun di kala diskusi tersebut dilakukan secara lebih mendalam, Carol
mengakui dan percaya sepenuhnya akan pendapat Senge mengenai organisasi
pembelajar dan pembelajaran organisasi. Carol mengatakan, "Saya yakin
Model 5 Disiplin Senge merupakan komponen integral dalam organisasi pembelajar,
yang menyediakan alat dan metoda yang bermanfaat dan bisa diterapkan dalam
proses pembelajaran organisasi. Jika pembelajaran organisasi dapat dilihat sebagai
sebuah siklus pembelajaran berkelanjutan, kemudian sebuah organisasi tidak bisa
tiba di suatu titik pada waktunya, maka ia akan menyebut dirinya sebagai
'organisasi pembelajar', sebuah kata atau pernyataan akhir. Dengan kata lain,
setiap organisasi yang secara konstan sedang melakukan proses pembelajaran
dapat diidentifikasi dan dinyatakan sebagai organisasi yang sedang
mempraktekkan proses pembelajaran organisasi.
Sedangkan untuk pemahamannya tentang
Pembelajaran Organisasi, Carol mengutip pendapat Schwandt yang mendefinisikan
Pembelajaran Organisasi sebagai sebuah sistem tindakan, pelaku, simbol-simbol
dan berbagai proses yang memungkinkan organisasi mentransformasi informasi
menjadi pengetahuan yang berharga sehingga dapat meningkatkan kapasitas organisasi
untuk melakukan adaptasi terhadap lingkungan dalam jangka panjang. Dalam proses
berdiskusi yang berujung pada pengadopsian pendapat Schwandt, Carol mencoba
untuk menawarkan sebuah panduan dan kerangka kerja untuk memulai perjalanan
pembelajaran organisasi. Hal tersebut dilandaskan pada teori tindakan sosial
umum yang diungkapkan Parsons (1968) yang memiliki elemen kinerja dan
pembelajaran. Ajaran dasar teori ini adalah perubahan sistem sosial yang
terjadi melalui proses pembelajaran dan hubungannya dengan pola kultural dan
asumsi dasar. Kerangka kerja tersebut digunakan oleh Schwandt dalam
mendefinisikan pembelajaran organisasi dan pengembangan model pembelajaran
organisasi dinamisnya.
Lebih lanjut Carol menyatakan bahwa
Pembelajaran Organisasi dan Organisasi Pembelajar dapat dan mesti eksis secara
bersamaan. Pada dasarnya, untuk mengefektifkan organisasi pembelajar dibutuhkan
siklus pembelajaran dan apresiasi yang mendalam, tentunya hal tersebut akan
memakan waktu. Menurut Carol, seorang Manajer Pengembangan Organisasi yang
menginginkan terciptanya organisasi pembelajar dapat memulainya dengan memahami
terlebih dahulu tentang perubahan dinamis pada struktur dan faktor pembentuk
sense/intelijensia dengan menggunakan model sistem pembelajaran organisasi.
Ang & Joseph dalam Malhotra (1996)
membedakan Pembelajaran Organisasi dan Organisasi Pembelajaran dengan
menggunakan istilah proses versus struktur. Malhotra pun mengungkapkan pendapat
McGill yang menyatakan tidak terdapat perbedaan antara Organisasi Pembelajaran
dengan Pembelajaran Organisasi. Mereka mendefinisikan Pembelajaran Organisasi
sebagai kemampuan organisasi untuk meningkatkan pandangan dan pemahamannya dari
pengalaman melalui eksperimen, observasi, analisis dan kemauan untuk belajar
baik terkait kesuksesan yang diraih maupun terkait kegagalan yang dihadapi.
Lagi-lagi uraian tersebut tidak jauh berbeda dengan uraian sebelumnya dari ahli
teori organisasi yang lain.
Satu pendapat terakhir, Mark K. Smith
(2001), memandang bahwa pembelajaran organisasi hanyalah alat untuk mencapai
tujuan strategis. Sedangkan membangun organisasi merupakan tujuannya, di kala
kemampuan permanen dan kolektif untuk senantiasa belajar menjadi pra-syarat
krusial yang dipenuhi demi kesuksesan dalam konteks baru.
Di awal tulisannya, Mark K. Smith
menyatakan bahwa telah banyak konsultan dan pelaku organisasi yang
mengungkapkan dan menguraikan tentang pembelajaran organisasi serta menjadikan
konsep organisasi pembelajar sebagai titik pusat orientasinya. Dua hal penting
yang dihasilkan dari hal tersebut adalah: Pertama, meskipun telah banyak orang
yang berbicara tentang organisasi pembelajar, namun tetap sangatlah sulit untuk
mengidentifikasi contoh dalam kehidupan nyata dari kedua istilah tersebut. Hal
ini bisa menjadi penyebab visi menjadi terlalu ideal dan menjadi penyebab tidak
relevannya terhadap persyaratan dan dinamika organisasi. Kedua, fokus dari
proses pembuatan pola dan keinginan untuk menampilkannya dalam bentuk yang
menarik bagi konsultan dan penulis telah mendorong untuk memperkuat secara
signifikan akan kerangka kerja teoritis tentang organisasi pembelajar. Hal ini
berbeda sekali dengan studi tentang pembelajaran organisasi.
Walaupun
ahli teori organisasi pembelajar telah memberikan gambaran terhadap ide
pembelajaran organisasi, namun sedikit sekali arus yang menentangnya secara
langsung. Lebih dari itu, sejak perhatian utama yang menunjukkan perbedaan
muncul, dua literatur telah dibangun sepanjang jalur yang menyimpang/berbeda.
Literatur tentang pembelajaran organisasi telah terkonsentrasi pada pemisahan
kolektifitas dan analisa tentang proses yang melibatkan pembelajaran individual
dan kolektif dalam organisasi. Sedangkan literatur organisasi pembelajar telah
menjadi sebuah orientasi tindakan dan digunakan sebagai alat metodologi
diagnostik dan evaluatif spesifik yang dapat membantu untuk mengidentifikasi,
mempromosikan dan mengevaluasi kualitas proses pembelajaran dalam organisasi.
Mayoritas
para ahli menyatakan bahwa Organisasi Pembelajar adalah tempat dimana orang-orang
melakukan proses belajar secara individual maupun bersama dalam rangka
meningkatkan diri dan mengembangkan organisasi. Sedangkan Pembelajaran
Organisasi adalah suatu proses dalam peningkatan kapasitas diri dan organisasi
agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Para akademisi dan praktisi di Indonesia menterjemahkan Learning
Organization menjadi beberapa istilah, yaitu Organisasi
Pembelajaran, Organisasi Belajar dan Organisasi Pembelajar. Perbedaan istilah
ini terjadi sebagai konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan tingkat
penguasaan dari para akademisi dan praktisi tersebut. Pembedaan istilah
tersebut akan sangat tergantung pada pokok pembahasan yang sedang dibicarakan
atau dikembangkan.
Malhotra, Yogesh, 1996. Organizational
Learning and Learning Organization : an Overview. BRINT Institute.
Marquardt,
Michael J., 1996.
Building The Learning Organization, McGrawHill
Montagu, Lisa. 2008.
Learning Organization / Organizational Learning.
Senge, P., Ross, R., et.al., 1999.
The Dance of Change: The Challenges of Sustaining
Momentum in a Learning Organization.
New York : Doubleday & Co. Smith, Mark K., 2001. The Learning Organization,
INFED. Yukl, G., 2006.
Leadership in Organization (7th ed.). New York: Doubleday &
Co.
No comments:
Post a Comment