By
Master Tutorial (MastuT)
On
00:54:00
In
Pembelajaran
ALTERNATIF TEACHING METHODS: PENERAPAN
METODE BLANDED LEARNING PADA
PENDIDIKAN JARAK JAUH DI
LUBUKLINGGAU
Dodik Mulyono
STKIP-PGRI Lubuklinggau dodik.mulyono@yahoo.com
ABSTRAK
Penerapan metode blended learning pada pembelajaran jarak jauh. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajarkan pembelajaran blended learning dibanding siswa yang diajarkan pembelajaran konvensional, 2) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa akibat penerapan pembelajaran blended learning. Jenis penelitian ini eksperimen. Populasi penelitian adalah seluruh SMA di kota lubuklinggau. Teknik pengumpulan data menggunakan tes tertulis dan angket. Data yang diperoleh dianalisis serta diuji dengan uji statistik parametrik.
Kata Kunci: Blended learning, LMS, hasil belajar
Pendahuluan
Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk seseorang guna memperkaya ilmu pengetahuan, dan pendidikan ini adalah usaha untuk memberantas kebodohan. Namun sayangnya tidak semua orang dapat merasakan pendidikan khususnya di kota lubuklinggau ini karena alasan satu dan lain hal seperti tidak adanya fasilitas sekolah berupa gedung dan lain lain seperti di daerah pelosok. Banyak orang diseluruh penjuru dunia mengakui bahwa pendidikan jarak jauh (PJJ) dapat digunakan sebagai salah satu cara yang efektif untuk mengatasi permasalahan pendidikan yang sulit diatasi dengan cara konvensional. Permasalahan itu misalnya banyak anak usia sekolah yang tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena tinggal di tempat yang jauh dari sekolah.
Pemerintah telah mengatur pendidikan jarak jauh berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), dimana yang dimaksud dengan pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang pesertanya didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi dan media lainnya. Beberapa batasan yang dialami dalam berhubungan satu sama lainnya, seperti
faktor jarak, waktu, jumlah, kapasitas, kecepatan dan lain-lain, kini dapat diatasi dengan dikembangkannya berbagai teknologi informasi dan komunikasi mutakhir.
Dengan teknologi internet misalnya, saat ini seseorang dapat dengan mudah dan murah mendapatkan informasi hanya dengan menggunakan telepon genggam (Clyde&Delohery, 2005: xi). Salah satu cara mengatasi permasalahan tersebut dapat menggunakan metode blanded learning, alasannya pada masa mendatang pendidikan akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner serta terkait pada produktivitas kerja dan kompetitif. Penggunaan komputer berbeda dengan buku atau mendengarkan ceramah guru dimana siswa hanya berperan pasif (Barton, 2004: 29). Kecenderungan dunia pendidikan di indonesia di masa mendatang adalah: pertama; berkembangnya pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh (distance learning). Kedua; sharing resource bersama antar lembaga pendidikan/latihan dalam sebuah jaringan. Ketiga; perpustakaan dan instrumen pendidikan lainnya (guru, laboratorium) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada sekadar rak buku. Keempat; penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif, seperti CD-ROM multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video. Penggunaan komputer dan teknologi informasi dalam pembelajaran juga memberikan keuntungan bagi guru. Menurut Musker (Musker, 2004: 14) keuntungan bagi guru diantaranya adalah sebagai berikut. (1) Dapat mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik. (2) Dapat mempercepat dan mempermudah tugas. (3) Dapat meningkatkan kualitas presentasi. (4) Dapat mengembangkan pembelajaran yang lebih visual.
Blended learning
Blended learning pada awalnya digunakan untuk menggambarkan mata pelajaran yang mencoba menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online. Selain blended learning ada istilah lain yang sering digunakan di antaranya blended learning dan hybrid learning. Istilah yang disebutkan tadi mengandung arti yang sama yaitu perpaduan, percampuran atau kombinasi pembelajaran. Blended Learning merupakanpengembangan lebih lanjut dari metode e- Learning, yaitu metode pembelajaran yang menggabungkan antara sistem e-Learning dengan metode konvensional atau tata muka (face-to- face). Ahli mendefinisikan blended learning seperti menurut Rooney, (2003), Blended learning is a hybrid learning concept integrating traditional in- class sessions and e-Learning elements.
Berdasarkan definisi ahli diatas secara umum blended learning lebih menekankan kepada penggabungan metode pembelajaran secara konvensional (face- to-face) dengan metode e-Learning. Blended learning juga menyebabkan berbagai masalah terutama bagi guru. (1) Guru perlu memiliki ketrampilan dalam menyelenggarakan E- learning. (2) Guru perlu menyiapkan referensi digital yang dapat diacu oleh siswa. (3) Guru perlu merancang referensi yang sesuai atau terintegrasi dengan tatap muka. (4) Guru perlu menyiapkan waktu untuk mengelola pembelajaran berbasis internet (Kusni, 2010). Martin Oliver dan Keith Trigwell dalam jurnal e-Learning, Volume 2, Number 1 tahun 2005, mendefinisikan blended learning; (1) Combining or mixing web-based technology to accomplish an educational goal; (2) Combining any form of instructional technology with face-to-face instructorled training.
Dalam penerapannya blanded learning disajikan seperti pada Tabel 1 berikut :
Live face-to-face Live face-to-face
(formal) (informal)
• Instructor-led • Collegial
Classroom Connections
• Workshops • Work teams
• Coaching/monitor • Role modeling
Ing
• On-the-job (OTJ)
training
Virtual Virtual
Collaboration / collaboration/
synchronous Asynchronous
• Live e-Learning • E-mail
classes • Online bulletin
• E-mentoring boards
• Listservs
• Online
Self-paced learning Performance support
• Web learning • Help systems
modules • Print job aids
• Online resource • Knowledge
links databases
• Simulations • Documentation
• Scenarios • Performance/decis
• Video and audio ion support tools
CD/DVDs
• Online self-
assessments
• Workbooks
Dari metode diatas dapat dilihat bahwa blanded learning memadukan berbagai metode pengajaran dengan memanfaatkan teknologi dan menyesuaikan kondisi yang disepakati semua pihak. Sedangkan teknologi virtual yang ada dapat dimanfaatkan untuk proses blended learning.
Menurut Cite as: Jeffrey, L. M., Milne, J., Suddaby. G., & Higgins, A. (2014).komparasi antara strategies in online and classroom modes dijelaskan pada tabel 2 berikut:
Table 2: Presence of engagement strategies in online and classroom modes
Teacher Primer Social Presence Challenge,
Authentic
Tasks Structure Re-engaging
Online Class Online Class Online Class Online Class Online Class
1 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3
2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 0
3 1 3 2 3 0 3 0 1 0 0
4 2 1 3 3 3 3 2 2 3 0
5 0 2 1 1 0 1 3 2 0 0
6 0 3 1 3 0 3 3 3 0 3
7 0 2 1 1 0 1 2 2 0 0
8 0 2 1 3 1 2 1 1 0 0
9 0 3 1 3 3 3 2 2 0 2
Keterangan:
0 = no strategy used; 1 = minimally developed strategy; 2 = adequate developed strategy; and 3 = well developed strategy.
Pemikiran dan upaya untuk memperbaiki pelaksanaan pendidikan jarak jauh terus dilakukan oleh para ahli. Karena itu, blended learning menggunakan kombinasi keunggulan dua model pembelajaran kelas konvensional dan kelas virtual, diharapkan pembelajaran akan menjadi efektif dan efisien, dapat dilihat di Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Penilaian Komparatif Tiga Model Pembelajaran
No Variabel Kelas konvension al Kelas Virtual Kelas Kombinasi (Blended Learning)
1 Registrasi Di kampus Online Keduanya
2 Lingkungan pembelajaran Hidup Terprogram Keduanya
3 Lingkungan kampus Di kampus Di luar kampus Keduanya
4 Kehadiran guru/tutor Diperlukan Tidak diperlukan Keduanya
5 Jadwal kelas Tertentu tempat & waktunya Kapan saja & dimana saja Kapan saja & dimana saja
6 e-mail Tdk ada Ya Ya
7 Audio-video
conferencing,
chatting Tidak ada Tidak ada Ya
8 Konsultasi Tatap muka Diumumkan Keduanya
9 Kerja kelompok Ya Tidak Ya
10 Tugas-tugas rumah Ya Tidak Ya
Sumber: Soekartawi (2005).
Informasi yang disajikan di Tabel 2 memberikan petunjuk bahwa pelaksanaan pendidikan jarak jauh terlihat lebih fleksibel. Dengan demikian melalui pendekatan blended learning prinsip-prinsip kebebasan, kemandirian, keluwesan, keterkinian, kesesuaian, mobilitas, dan efisiensi seperti yang disyaratkan dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh tersebut relatif mudah untuk dipenuhi.
Selanjutnya secara lebih spesifik Soekartawi (2005) menyarankan enam tahapan dalam merancang dan menyelenggarakan blended learning agar hasilnya optimal. Ke-enam tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tetapkan macam dan materi bahan ajar, kemudian ubah atau siapkan bahan ajar tersebut menjadi bahan ajar yang memenuhi syarat untuk pendidikan jarak jauh. Karena medium pembelajarannya adalah blended - learning, maka bahan ajar sebaiknya dibedakan atau dirancang untuk tiga macam bahan ajar, yaitu:
a. Bahan ajar yang dapat dipelajari sendiri oleh siswa,
b. Bahan ajar yang dapat dipelajari melalui cara berinteraksi melalui cara tatap-muka, dan
c. Bahan ajar yang dapat dipelajari melalui cara berinteraksi melalui cara on¬line/web-based learning.
2. Tetapkan rancangan dari blended learning
yang digunakan. Pada tahap ini diperlukan ahli e-Learning untuk membantu. Intinya adalah bagaimana membuat rancangan pembelajaran yang berisikan komponen pendidikan jarak jauh dan tatap-muka yang baik. Karena itu dalam membuat rancangan pembelajaran ini, perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan antara lain: bagaimana bahan ajar tersebut disajikan, bahan ajar mana yang bersifat wajib dipelajari dan mana yang sifatnya anjuran guna memperkaya pengetahuan siswa, bagaimana siswa bisa mengakses dua komponen pembelajaran tersebut, faktor pendukung apa yang diperlukan. Misalnya software apa yang digunakan, apakah diperlukan kerja kelompok, apakah diperlukan learning resource centers (sumber pembelajaran) di daerah-daerah tertentu.
3. Tetapkan format dari on-line learning- apakah bahan ajar tersedia dalam format html (sehingga mudah di cut and paste) atau dalam format PDF (tidak bisa di cut and paste). Juga perlu di beritahukan ke siswa dan guru hosting apa yang dipakai, yaitu apakah on-line learning tersebut menggunakan internet link apa?. apakah Yahoo, Google, MSN atau lainnya.
4. Lakukan uji terhadap rancangan yang dibuat. Ini maksudnya apakah rancangan pembelajaran tersebut bisa dilaksanakan dengan mudah atau sebaliknya. Cara yang lazim dipakai untuk uji seperti ini adalah melalui cara 'pilot test'. Dengan cara ini penyelenggara blended learning bisa minta masukan atau saran dari pengguna atau peserta pilot test.
5. Selenggarakan blended learning dengan baik sambil juga menugaskan instruktur khusus (dosen/guru) yang tugas utamanya melayani pertanyaan siswa, apakah itu bagaimana melakukan pendaftaran sebagai peserta, bagaimana siswa atau instruktur yang lain melakukan akses terhadap bahan ajar, dan lain- lain. Instruktur ini juga bisa berfungsi sebagai petugas promosi (public relation) karena yang bertanya mungkin bukan dari kalangan sendiri, tetapi dari pihak lain.
6. Siapkan kriteria untuk melakukan evaluasi pelaksanaan blended learning. Memang banyak cara bagaimana membuat evaluasi ini, namun Semler (2005) menyarankan sebagai berikut:
Ease to navigate, dalam artian seberapa mudah siswa bisa mengakses semua informasi yang disediakan di paket pembelajaran yang disiapkan di komputer. Kriterianya: makin mudah melakukan akses adalah makin baik.
Metode
Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen. Desain yang digunakan adalah Pretest-Posttest Group Desain.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan beberapa hal; pertama pendidikan jarak jauh telah diatur dalam SISDIKNAS yang tertuang dalam UU No.20 tahun 2003; kedua Blended learning salah satu solusi alternatif memecahkan permasalahan pendidikan jarak jauh yang tepat saat ini, karena pelaksanaannya merupakan campuran dari berbagai keunggulan penyelenggaraan pendidikan j arak j auh. Ketiga Blanded learning menggabungkan berbagai sumber secara fisik dan maya (virtual); keempat ada enam langkah dalam menyelenggarakan blended learning: (a) menetapkan macam dan materi bahan ajar, (b) menetapkan rancangan dari blended learning, (c) menetapkan format dan link dari on-line learning, (d) melakukan uji terhadap rancangan yang dibuat, (e) pelenyelenggarakan blended learning dengan baik dan benar, dan (f) siapkan kriteria untuk melakukan evaluasi; keenam Blended learning lebih dibutuhkan disaat siswa memerlukan tambahan pelajaran.
Daftar Pustaka
Barton, R. (2004). Why use computer in practical science? Dalam Barton, R. (eds.), Teaching secondary science with ICT (pp. 29). New York: Open University Press.
Cite as: Jeffrey, L. M., Milne, J., Suddaby. G., & Higgins, A. (2014). Blended learning: How teachers balance the blend of online and classroom components. Journal of Information Technology Education: Research, 13, 121-140.
Clyde, W., & Delohery, A. (2005). Using Technology in Teaching. London: Yale University Press.
Kusni, M. (2010). Implementasi Sistem Pembelajaran Blended Learning pada Matakuliah AE3121 Getaran Mekanik di Program Aeronotika dan Astonotika, Seminar Tahunan Teknik Mesin.
Musker, R. (2004). Using ICT in a secondary science department. Dalam Barton, R. (eds.), Teaching secondary science with ICT (pp. 19). New York: Ope University Press.
Oliver, Martin & Trigwell, Keith, (2005), e- Learning Journal, Volume 2, Number 1
Rooney, J. E. 2003, Blended learning opportunities to enhance educational programming and meetings. Association Management, 55(5), 26-32.
Soekartawi, A. Haryono dan F. Librero, (2002), Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences in Indonesia and the Philippines. Southeast Journal of Education.